Jumat, 18 Januari 2013

sinopsis-Kemarau

Kemarau
Karya: A.A. Navis
Para petani semakin merasa berputus
asa karena musim kemarau panjang yang
sedang menimpa negeri ini. Sawah dan
ladang mereka sangat kering dan cuaca
panas sangat menyengat tubuh. Keadaan
itu membuat mereka tidak mau lagi
mengolah sawah atau mengairi sawah
mereka. Mereka hanya bermalas-malasan
dan bermain kartu.
Namun, ada seorang petani yang tidak
ikut bermalas-malasan. Ia adalah Sutan
Duano. Dalam keadaan kemarau panjang
ini, ia tetap mengairi sawahnya dengan
mengangkat air dari danau yang ada di
sekitar desa mereka sehingga padinya
tetap tumbuh. Ia tidak menghiraukan panas
matahari yang membakar tubuhnya. Ia
berharap agar para petani di desanya
mengikuti perbuatan yang ia lakukan. Ia
juga berusaha memberikan ceramah
kepada ibu-ibu yang ikut dalam pengajian
di surau desa mereka. Namun, tak satu pun
petani yang menghiraukan ceramahnya,
apalagi mengikuti langkah-langkah yang
dilakukannya. Tampaknya, keputusasaan
penduduk desa telah sampai pada
puncaknya.
Suatu hari ada seorang bocah kecil
bernama Acin yang membantunya mengairi
sawah sehingga keduanya saling bergantian
mengambil air di danau dan mengairi sawah
mereka. Penduduk desa yang melihat kerja
sama antara keduanya bukannya mencontoh
apa yang mereka lakukan, melainkan
mempergunjingkan dan menyebar fitnah,
bahwa Sutan Duano mencoba mencari
perhatian Gundam, ibu si bocah itu, yang
memang telah menjadi janda. Bahkan,
seorang janda yang menaruh hati kepada
Sutan Duano pun kemudian mempercayai
gunjingan itu. Gunjingan itu semakin memanaskan
telinga Sutan Duano, tetapi ia
tidak menanggapinya dan tetap bersikap
tenang.
Suatu hari ia menerima telegram dari
Masri, anaknya yang sudah dua puluh tahun
disia-siakannya. Ia diminta untuk pergi ke
Surabaya. Dalam hatinya, ia ingin bertemu
dengan anak semata wayangnya itu, namun
ia tidak mau meninggalkan si bocah kecil
yang masih memerlukan bimbingannya.
Setelah mempertimbangkan masak-masak,
ia pun memutuskan untuk pergi ke
Surabaya. Sementara itu, para penduduk
desa merasa kehilangan atas kepergiannya.
Apalagi setelah mereka membuktikan
bahwa semua saran yang diberikan olehnya
memberikan hasil. Mereka menyesal telah
salah sangka terhadapnya.
Hari yang dinanti-nantikan pun tiba,
Sutan Duano pun berangkat ke Surabaya.
Namun, sesampainya di kota tersebut,
hatinya menjadi hancur ketika ia bertemu
dengan mertua anaknya. Ternyata mertua
anaknya adalah Iyah, mantan istrinya. Ia
marah kepada Iyah karena telah menikahkan
dua orang yang bersaudara. Karena marahnya
itu, Sutan Diano mengancam akan
memberitahukan kepada Masri dan Arni.
Namun, Iyah berusaha menghalanginya
dengan memukul kepala mantan suaminya
itu dengan sepotong kayu. Kalau saja Arni
tidak menghalanginya, kemungkinan besar
Sutan Duano tidak akan selamat.
Melihat mantan suaminya bersimbah
darah, Iyah merasa menyesal. Kemudian,
ia memberitahukan kepada Arni bahwa
Sutan Duano adalah mantan suaminya.
Betapa terkejutnya Arni mendengarnya. Ia
kemudian menceritakan hal itu kepada
suaminya, sehingga mereka sepakat untuk
berpisah. Tak lama kemudian, Iyah meninggal
dunia, sedangkan Sutan Duano pulang ke
kampung halamannya dan menikah dengan Gundam.
(Sumber: 115 Ikhtisar Roman Sastra Indonesia, 1999)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar